Senin, 09 Desember 2013

Merintis Brand Baru di Era Kompetisi Pasar

Merintis Brand Baru di Era Kompetisi Pasar


Ilustrasi. (Foto: Seorchers) Ilustrasi. (Foto: Seorchers)

KETIKA akan memulai sebuah bisnis baru, para perintis sering menempatkan branding pada bagian belakang perencanaan bisnis mereka. Inilah yang kerap kali terjadi pada para perintis usaha dalam dunia bisnis yang awam akan branding.

Berdasarkan data pada Statistic Brain, bisa dipastikan 46 persen kegagalan pada bisnis startup didasarkan pada faktor kurangnya perencanaan. Kebanyakan dari mereka terlalu sibuk merencanakan bisnis mereka pada pengembangan produk, keuangan, ritel, supplier, pajak, dan lain-lain. Padahal salah satu aspek yang tidak kalah penting pada bagian perencanaan bisnis adalah branding yang kuat.

Tidak hanya pemilihan nama, logo ataupun slogan, branding juga ke arah siapakah Anda, bagaimanakah Anda berbeda dari pesaing Anda, bagaimana men-ciptakan sisi emosional yang kuat, branding seperti perpaduan antara strategi, pemasaran, dan komunikasi. Kekuatan branding inilah yang dapat menggerakkan mereka para konsumen untuk dapat percaya pada bisnis Anda sehingga menciptakan loyalitas dan membentuk imej atau persepsi orang-orang atas bisnis tersebut.

Mari kita coba mengambil sebuah studi dan kembali ke enam tahun yang lalu saat sebuah brand HTC kelahiran Taiwan baru saja memulai debutnya. Sebagaimana dilansir Interbrand Website,John Wang, Chief Marketing Officer HTC, menjelaskan bahwa HTC memulai kesuksesan dari memformulasi strategi brand-nya. Pada era kompetisi pasar yang sedang ketat saat itu, HTC bersaing dengan brand-brand besarseperti I-phone, Samsung, dan LG yang sudah berkembang lebih jauh dari segi teknologi, kualitas, dan distribusi produk, ditambah pula dengan anggaran pemasaran mereka yang besar.

HTC menyadari hal ini seperti dihadapkan pada situasi di mana di dunia ini semua orang ingin berteriak. Pada saat brand-brand lain sedang mencoba berbicara tentang mereka sendiri, tidak ada yang tampak berbeda kecuali orang yang hanya diam dengan tenang dan pada akhirnya ketika dia berbicara setiap orang akan mendengarkan. Itulah yang HTC lakukan, diam.

Memang ini bukan contoh pemasaran yang baik, tapi ini seperti melihat siapa diri kita sebenarnya. Visi kita muncul dari budaya kita, yaitu ketika kita melihat diri kita sendiri dan berkata kami tenang dan kami berkomitmen. Ketika konsumen ingin membeli ponsel pintar saat ini, mereka memiliki banyak pilihan. “Kami ingin brand HTC sangat berbeda. Ini bukan tentang kecepatan prosesor atau kualitas layar. Ini lebih seperti kembali ke kepribadian kita, kita melihat dunia melalui mata konsumen,” demikian penjelasan HTC.

Eksekusinya dalam kasus ini, sebagai contoh, ponsel HTC akan berdering keras bila berada di dalam tas dan akan mengurangi volume ketika dikeluarkan. Atau saat Anda melewatkan panggilan, Anda dapat melihat status Facebook di samping ID sang pemanggil sehingga percakapan sudah dimulai sebelum Anda kembali menghubungi panggilan itu.

Hanya membutuhkan waktu satu detik untuk menjawab telepon, tapi dalam satu detik itu pun ponsel HTC melakukan hal yang brilian. Ini adalah tentang melakukan hal-hal besar dengan cara yang sederhana. Pada tahun ini, menurut Techradar, HTC berada pada peringkat pertama dari 20 ponsel terbaik di dunia, mengungguli para pelopornya, Samsung, I-phone, dan LG. Sekarang apakah Anda percaya akan kekuatan branding?

DANIEL SURYA
Chairman & President SEA, DMIDHOLLAND

EKO SANTOSO
Senior Brand Designer DM-IDHOLLAND


(Koran SINDO//wdi)
http://economy.okezone.com/read/2013/09/18/23/867808/merintis-brand-baru-di-era-kompetisi-pasar

Tetap Fokus pada Sasaran Bisnis Anda

Tetap Fokus pada Sasaran Bisnis Anda



ISTILAH tujuan dan sasaran sering bertukar kata dan orang terbiasa menggunakan secara bergantian untuk maksud yang sama. Namun, sesungguhnya ada sedikit perbedaan. Dalam tujuan ada sasaran, bukan sebaliknya.

Barangkali bisa digambarkan dalam pertandingan sepak bola; tujuan memenangkan pertandingan, dengan sasaran gol minimal 1-0. Seyogianya perusahaan mempunyai satu tujuan dan itu merupakan hasil dari perenungan, diskusi, dan keputusan dari pimpinan tertinggi, bisa diambil dari bawah idenya atau merupakan keputusan dari atas.

Setelah itu ditetapkan sasaran yang tercakup dalam tujuan, tentunya tidak boleh terlalu banyak, katakanlah maksimum tiga, sebab jika terlalu banyak akan membingungkan bagi pelaksana, selain tidak tahu yang mana prioritas juga dapat terjadi conflict of interest apalagi jika tiap-tiap sasaran dikerjakan oleh tim yang berbeda, masing-masing berpikir untuk kepentingan sendiri dan tidak peduli dengan tim lain.

Dalam penetapan sasaran, jika lebih dari satu harus terlihat jelas prioritas, dampak, harus saling mengisi dan melengkapi sasaran lain dan pada akhirnya tiba di tujuan. Sekali sudah ditetapkan, jangan terlalu mudah diubah- ubah, sebab dalam perjalanan perusahaan banyak bagian yang terkait dan bekerja setengah jalan.

Sementara satu bagian menginginkan perubahan, bagian lain tidak, dan jika masing-masing menetapkan sendiri maka akan terjadi perpecahan yang menghambat sehingga akhirnya tidak jadi meraih sasaran. Tidakmencapaisasaran berarti tidak sampai di tujuan. Michael Angier pendiri dan presiden dari Success Networks International memberikan tips agar kita dapat tetap fokus pada sasaran-sasaran yang ditetapkan. Fokus berarti konsisten dan konsekuen dan terus mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan pencapaian sasaran.

Pertama, milikilah alasan yang kuat. Alasan yang kuat menjadi motivasi yang mendorong seseorang untuk mengerjakan sesuatu. Ketika ditanya yang bersangkutan dapat memberikan jawaban tegas dan meyakininya dari lubuk hati yang paling dalam. Ia dapat memberikan jawaban pasti bahwa ia mengetahui sasaran yang di arah, danmengapaia harus meraihnya.

Kedua, tulislah sasaran Anda. Dengan menulisnya bukan saja menjadi jelas, akantetapimenjadi semacam dokumen perjanjian paling tidak bagi Anda atau departemen Anda. Sering-seringlah melihat apa yang Anda tulis agar itu menjadi hafalan yang setiap kali mengingatkan Anda akan sasaran yang harus diraih. Dengan membaca dan merenungkannya maka sasaran itu akan menyatu dengan pikiran dan hati Anda dan mendorong Anda untuk terus melakukan yang menjadi bagian Anda.

Ketiga, visualisasikan. Ada ungkapan picture speaks louder than words, gambar berbicara lebih keras dari kata-kata. Tuangkanlah sasaran-sasaran perusahaan Anda dengan gambar- gambar atau foto-foto, di samping kata-kata, sehingga lebih mudah ditangkap dan dimengerti oleh setiap karyawan yang terkait, tidak lagi bertanyatanya apa yang dimaksud. Semakinmengerti, semakinjelas dan semakin memudahkan.

Keempat, setiap keberhasilan yang dicapai harus dikomunikasikan agar diketahui semua anggota tim dan karyawan. Keberhasilan bisa secara bertahap untuk memacu ke keberhasilan berikutnya. Ini akan mendorong sugesti bahwa “Anda bisa, kita bisa.” Sama halnya dengan kita sedang merobohkan temboktembok penghalang.

Kelima, buatlah plan of action. Perencanaan yang berorientasi pada tindakan, action oriented. Tahap demi tahap apa yang harus dilakukan. Sering orang tidak dapat membedakan yang mana rencana dan yang mana program. Biasanya program dibuat dengan pemikiran nice to have, sedangkan action tindakan yang must have. Setiap rencana aksi harus menuju semakin dekat ke sasaran.

Keenam, ukur perkembangan. Setiap tindakan harus bisa diukur, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Seperti halnya kita mengendarai mobil menuju sebuah tujuan kota, kita perlu memeriksa apakah kita tidak salah jalan, kemudian berapa jauh telah dilalui dan berapa jauh lagi harus ditempuh untuk sampai di tujuan.

Ketujuh, kumpulkan orang-orang yang dapat berkontribusi dalam konteks pemikiran. Kritik yang sehat demi kebaikan sangat berguna memperbaiki kinerja. Pelaksana sering terlena setelah merasa mencapai keberhasilan. Kita harus mencapai sasaran sesuai dengan ukuran waktu dan keutuhan yang menjadi sasaran. Sering tepat waktu namun hasilnya belum atau tidak maksimal, sebaliknya mencapai sasaran, namun dengan waktu yang jauh lebih lama. Ingat time is money. Setiap keterlambatan akan menambah biaya.

Kedelapan, kerjakan bertahap. Tetapkan tahapan kerja; kemudian kerjakan tahapan kerja Anda. Ada hal-hal yang dapat dilakukan simultan, sekaligus oleh beberapa regu atau tim, tapi dalam tim sendiri harus dikerjakan secara bertahap sesuai tahapan. Hal ini untuk memastikan bahwa apa yang dikerjakan benar sebelum terlalu jauh dalam membuat kesalahan.

Kesembilan, jangan menunda-nunda apa yang dapat dikerjakan hari ini, setiap penundaan dapat menyebabkan mundurnya tahapan berikutnya. Sebaliknya pelajari apa yang akan dikerjakan esok hari, dengan mempelajarinya, maka esok hari akan lebih siap.

Kesepuluh, rayakan secara sederhana apa yang dicapai sesuai dengan titik tahapan atau dikenal dengan milestones ataustepstones. Sederhana, agar kita tetap memberikan apresiasi pada diri kita dan anggota tim, namun sebaliknya mengingatkan kita bahwa perjalanan belum usai, masih harus menempuh perjalanan berikutnya untuk tiba di sasaran dan tujuan.

DR ELIEZER H HARDJO PHD, CM
Ketua Dewan Juri Rekor Bisnis (ReBi) &
Ketua Institute Certified Professional Managers (ICPM)

http://economy.okezone.com/read/2013/10/18/23/883250/tetap-fokus-pada-sasaran-bisnis-anda

Branding vs Advertising

Branding vs Advertising


Ilustrasi. (Foto: Seorchers) Ilustrasi. (Foto: Seorchers)

KETIKA mendatangi salah satu pernikahan di akhir pekan lalu, saya bertemu dengan orang-orang baru dan membicarakan banyak hal, mulai dari betapa cantiknya dekorasi pernikahan tersebut, betapa banyaknya tamu yang hadir, hingga membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan sama sekali dengan pernikahan, yaitu pekerjaan saya di bidang branding.

Seperti biasa, dan seperti perkiraan saya, mereka akan salah tangkap mengenai pengertian branding dan advertising. Hal ini sudah saya alami berkali-kali. Terutama dengan teman-teman yang tidak bekerja di bidang komunikasi. Terkadang saya berpikir, apa yang membuat masyarakat sering mengalami kesalahpahaman akan pengertian branding dan advertising.

Padahal, Jakarta merupakan salah satu kota metropolitan yang membebaskan masyarakatnya untuk berekspresi di bidang komunikasi. Tidak seperti salah satu kota di Amerika Latin, Sao Paulo, yang melarang perusahaan untuk memasang outdoor advertisement yang menjadikan kota tersebut sering kali dijuluki ”Clean City”.

Di kota tersebut tidak ada billboard, banner, poster, stiker iklan di transportasi umum atau apapun yang berhubungan dengan outdoor advertisement. Maka dari itu, menurut saya sudah waktunya masyarakat Indonesia yang masih sangat bebas dan terbuka dalam hal komunikasi mengerti betul mengenai perbedaan branding dan advertising mengingat keduanya sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebuah produk maupun perusahaan.

Pada dasarnya, perbedaan inti antara branding dan advertising sama sekali tidak rumit. Branding merupakan sebuah strategi dalam pengembangan bisnis yang dilakukan untuk menerjemahkan identitas dan nilai-nilai dari sebuah produk atau perusahaan dan dilakukan untuk jangka panjang. Sedangkan advertising adalah sebuah taktik untuk menaikkan sales atau penjualan dan dilakukan untuk jangka waktu yang jauh lebih pendek.

Seperti yang telah disebutkan, branding juga dilakukan untuk menerjemahkan identitas perusahaan kepada pelanggan atau masyarakat luas. Namun sebetulnya, sebelum beranjak untuk menerjemahkannya kepada pihak eksternal, akan jauh lebih baik apabila perkenalan dilakukan kepada pihak internal terlebih dahulu dalam hal ini karyawan perusahaan.

Dalam istilah branding, kegiatan menanamkan nilai-nilai perusahaan yang terangkum dalam brand strategy kepada pihak internal dinamakan brand engagement. Setelah pihak internal paham akan strategi branding perusahaan, nantinya akan jauh lebih mudah untuk mengomunikasikannya kepada pihak eksternal. Advertising biasanya dilakukan untuk mendukung agar sebuah perusahaan memiliki strategi branding yang baik.

Contoh dari advertising adalah peletakan iklan pada koran, iklan pada TV dan majalah, billboard, hingga poster dan flyer. Apabila, aplikasi advertising pada iklan di media cetak, media elektronik dan lainnya berjalan dengan konsisten, maka branding dari sebuah perusahaan dapat terbentuk dengan baik pula.

Konsisten di sini berarti penempatan logo, warna yang ditampilkan dan sebagainya haruslah sama dan sistematis. Apabila sebuah brand memilih biru muda sebagai identitasnya, dalam seluruh aplikasinya mereka tidak dapat mengubahnya ke biru tua. Hal ini ditujukan untuk menjaga konsistensi brand. Contoh aplikasi branding yang baik adalah Citibank.

Dengan melihat gradasi warna biru, masyarakat dapat langsung mengasosiasikannya dengan salah satu bank terbesar di dunia tersebut, tanpa harus membaca tulisan Citibank. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa branding is not advertising.

Branding dilakukan sebagai investasi jangka panjang bagi perusahaan sedangkan advertising dilakukan untuk menaikkan penjualan dan dilakukan dalam jangka waktu yang lebih pendek.

NOSSY ARSYAD
Senior Account Executive, DM-IDHOLLAND
&
DANIEL SURYA
Chairman & President SEA, DM-IDHOLLAND
(Koran SINDO//wdi)
http://economy.okezone.com/read/2013/10/31/23/889737/branding-vs-advertising

Merek Indonesia Harus Berdaya Saing

Merek Indonesia Harus Berdaya Saing


Ilustrasi. (Foto: suxiid) Ilustrasi. (Foto: suxiid)

PRODUK kecantikan dalam negeri menjadi salah satu brand yang saat ini masih memiliki kekuatan pasar di Tanah Air. Di tengah serbuan produk asing, berbagai merek produk dalam negeri tetap mampu bersaing.

Tidak mudah bagi sebuah brand lokal mendapat pengakuan masyarakat global. Ukuran pertama yang dilihat adalah daya saing produk yang berkualitas tinggi. Sementara sejumlah brand nasional mulai membuktikan taji mereka di hadapan brand multinasional.

Di antara sekian sektor industri dalam negeri yang diakui dunia adalah produk kecantikan. Alam Indonesia yang kaya raya menginspirasi para pelaku usaha kecantikan memanfaatkan sumber alami sebagai bahan dasar memanjakan kaum perempuan. Tak tanggung-tanggung, karena kekayaan itu, publik luar negeri tersanjung dan penasaran dengan banyak brandproduk kecantikan di Tanah Air. Tak sedikit di antara mereka yang memanfaatkan berbagai produk kecantikan asal Indonesia.

Menurut President Director Martha Tilaar Group Bryan Tilaar, sebenarnya banyak brand kecantikan lokal yang mampu bersaing dengan berbagai brand kecantikan multinasional sekarang ini. Brand kecantikan asal Indonesia bersaing di sektor skin white, hair, dan jamu. Berbagai produk Martha Tilaar misalnya sudah membuktikan mampu bermain di pentas global. “Selain brand di dalam negeri sudah kuat, kita juga sudah lama berkontribusi di panggung internasional,” ucap Bryan beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan, keterlibatan brand kecantikan lokal di pentas global tidak lain karena mereka memiliki kualitas unggul dan berdaya saing. Malah, sejumlah brand lokal lebih baik dibanding banyak produk kecantikan asing. Ini karena para pelaku usaha brand kecantikan di dalam negeri aktif mempertahankan ekuitas mereknya. “Maksudnya ialah mereka mampu mempertahankan brand image, awareness, association, dan ekuitas itu sendiri,” ungkap Bryan. Pemilik brand kecantikan di Tanah Air juga selalu memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen.

Kebaikan layanan itu diberikan lewat berbagai produk yang bisa memanjakan konsumen. “Lebih dari itu, yang lebih penting ialah pemilik brand Indonesia harus melakukan banyak konsolidasi ke dalam dan berpikir market oriented,” kata pria berkaca mata ini.

Menurutnya, konsumen biasanya memiliki banyak keinginan yang tersembunyi. Nah, itu sudah menjadi tanggung jawab pemilik branduntuk mencari tahu sehingga dapat memberikan pelayanan dan mengeluarkan produk sesuai keinginan mereka. Dari sini pula muncul inovasi sehingga merek tersebut lebih bervariasi.

“Itu kita harus jeli mencari dan memuaskannya. Kalau tanpa itu, sangat sulit menjadi brand kecantikan lokal yang berdaya saing global,” ucap Bryan.

Pada tahun-tahun mendatang kompetisi di industri kecantikan di Indonesia akan semakin ramai. Berbagai brand asing akan turut menyemarakkan pasar kecantikan di dalam negeri. Karena itu, brand lokal tidak boleh kalah. “Kita harus pacu kreativitas sehingga dapat mempertahankan keunggulan dan fokus pada kualitas dan inovasi brand yang kita miliki,” paparnya.

Sayangnya, perhatian pemerintah terhadap brand kecantikan dalam negeri tidak terlalu signifikan. Para pemangku kebijakan lebih disibukkan pada persoalan politik praktis yang mengancam sisi ekonomi, keamanan, maupun politik kebangsaan.

Ini pula yang diungkapkan Yesha Chatab dari WIR Global. Tantangan bagi merek lokal saat ini adalah minimnya perhatian pemerintah. “Terutama sekarang ini banyak brand asing yang masukkedalamnegeri. Nah, mestinya pemerintah bisa memfokuskan perhatian ini,” ucapnya.

Membuktikan Kualitas

Cinta produk dalam negeri sering didengungkan pemerintah. Namun, masih banyak anggapan masyarakat bahwa produk asing lebih berkualitas. Ini menjadi tantangan bagi produk nasional untuk memberikan bukti bahwa produk dalam negeri lebih kualitas. Menurut Commercial Retail Fuel Marketing Manager Pertamina Waljiyanto, saat ini produk- produk Pertamina menguasai pasar dalam negeri. Baik yang berupa pelumas maupun BBM.

Walaupun produk pelumas asing banyak hadir di Indonesia, Pertamina terbukti masih menjadi pilihan terbesar baik pelumas untuk kebutuhan automotif maupun industri. “Ketika masyarakat beralih ke BBM nonsubsidi mayoritas memiliki Pertamax,” ujar Waliyanto,

Sementara Nastiti Tri Winasis, co-chief operationsMarkPlus Insight menyebutkan bahwa produk asing dan nasional mempunyai peluang yang sama dalam merebut pasar Indonesia.

Nastiti menyebutkan, saat ini sebagian masyarakat masih ada anggapan bahwa produk asing lebih berkualitas dibanding produk dalam negeri. Padahal, tidak sedikit produk Indonesia yang justru berkualitas lebih baik. “Masyarakat kadang memilih produk asing karena dianggap lebih berkualitas,” kata Nastiti.

Menurut Nastiti, sebuah produk dikatakan berkualitas juga perlu disampaikan dengan benar sehingga masyarakat mengetahui bahwa produk tersebut memang berkualitas. Kualitas produk bisa dimaksimalkan untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat. (Koran SINDO//wdi)
http://economy.okezone.com/read/2013/11/29/23/904831/merek-indonesia-harus-berdaya-saing

Peduli: Awal Perubahan

Peduli: Awal Perubahan



KETIKA Sir Richard Branson datang ke Jakarta beberapa tahun lalu, dia sempat bilang, ”Entrepreneur terlahir karena kekecewaannya. Dia bisa kecewa, karena dia peka dan peduli”.

Maksudnya apa? Dia menjelaskan bahwa pada umumnya, seseorang menjadi pengusaha itu ketika dia melihat ada yang tidak beres (peka), kemudian ingin memperbaikinya (peduli). Karena saya bukan orang yang suka berteori, kembali saya akan mencoba untuk memberikan contoh dari apa yang pernah dan sedang saya jalankan. Buku Young On Top, yang merupakan cikal bakal PT YOT Nusantara, lahir karena rasa kecewa saya terhadap tim saya di kantor saat itu.

Ketika ada rapat mingguan yang dijadwalkan pukul 10.00, saya selalu sudah ada di ruangan pukul 09.55, sementara tim saya baru datang ke ruangan pukul 10.00, atau beberapa menit setelahnya; itu pun, mereka masih keluar lagi untuk mengambil barang mereka yang tertinggal di ruangannya. Rapat pun menjadi tidak tepat waktu mulainya. Contoh lain, saya saat itu juga sering melihat banyak manajer muda yang tingkah lakunya arogan.

Sementara, saya juga kenal beberapa direktur yang rendah hati (humble). Salah satu orang yang membuat saya terkesan adalah Pak Soetikno Soedardjo, CEO MRA Group. Ketika di suatu kesempatan, saya bertemu dengannya, saya disalami dengan kedua tangannya. Langsung terlintas di pikiran saya saat itu, ”Wow, orang sukses yang satu ini humble sekali!” Dan, masih ada ratusan contoh lain, yang akhirnya membuat saya menulis buku Young On Top ini.

Saya kesal dan kecewa dengan banyak hal yang terjadi di lingkungan saya saat itu. Selain soal on time, humble, saya juga sering melihat banyaknya anak-anak muda yang tidak tahu apa passion-nya, tidak berani bermimpi besar, malas, tidak mau berusaha lebih keras (extra mile), tidak berpikiran terbuka, selalu menilai segala sesuatunya dari sisi yang negatif, dan masih banyak lagi. Saya kesal. Saya kecewa. Nah, tapi kalau saya tidak peka, apakah itu semua akan membuat saya kesal dan kecewa?

Tentu tidak. Apa yang baru saya sampaikan ini, mungkin bukan hal yang rahasia. Kita semua tahu banyak sekali orangorang yang seperti demikian. Tapi, apakah banyak yang memberikan perhatian khusus? Saya pun tidak berhenti hanya pada level kesal dan kecewa. Setelah saya melihat kenyataan itu semua (peka), saya memilih untuk peduli. Saya ingin melakukan sesuatu. Itulah kenapa buku Young On Top saya tulis.

Saya tidak berhenti sampai di situ, karena kepekaan saya terhadap fakta bahwa orang Indonesia tidak suka membaca, maka lahirlah ide untuk membawa buku ini menjadi acara radio mingguan, menjadi rangkaian campus roadshow, menjadi acara TV mingguan, menjadi platform digital untuk anak-anak muda, menjadi komunitas di 46 kota, hingga menjadi konsultan brand activation yang khusus menargetkan anak-anak muda Indonesia.

PT YOT Nusantara, yang saya dirikan untuk mengurusi semua hal yang berkaitan dengan kegiatan Young On Top pun lahir, karena kepekaan dan kepedulian saya terhadap apa yang terjadi pada anak-anak muda Indonesia. Dengan visi: to create the next stronger generation of Indonesia, perusahaan ini terbentuk tahun lalu. Contoh lain yang bisa saya ceritakan di sini adalah proses pemikiran saya dalam membentuk JIM Executive, sebuah manajemen pembicara profesional.

Aneh? Jelas, karena mungkin saat ini, JIM Executive adalah satu-satunya, atau paling tidak, manajemen pembicara profesional terbesar di Indonesia. Apa rasional di belakang pendirian unit bisnis yang bernaung di bawah PT. Jakarta International Management (milik saya dan Rudhy Buntaram)? Kembali kepada kenyataan, bahwa banyak sekali saat ini orang-orang yang ‘galau’. Ternyata, yang merasakan kegalauan ini bukan hanya ‘ABG’, tapi juga orang-orang yang sudah bekerja.

Dari mana saya tahu ini? Karena banyaknya kampus maupun perusahaan-perusahaan yang memanggil pembicara luar untuk berbagi kepada puluhan atau ratusan karyawannya. Tujuan utama: membangkitkan motivasi para karyawan. Menurut saya: salah kaprah. Karena kekecewaan saya yang melihat banyak kampus dan perusahaan yang memanggil pembicara yang hanya bisa ‘cuap-cuap’, hanya bisa berteori; bermodalkan baca banyak buku kemudian dirangkum ke dalam sebuah Power-Point serta latihan public speaking, maka JIM Executive pun saya bentuk.

Saya ingin, anak-anak muda Indonesia mendengarkan inspirasi nyata dari orang-orang yang memang benar sudah sukses secara karier. Saya ingin, mereka yang menjadi pembicara adalah orangorang yang memang sudah pantas untuk berbagi. CEO, Direktur, GM, atau pengusaha (entrepreneur). Kini, JIM Executive sudah meng-handle sekitar 22 CEO/Direktur/GM/pengusaha yang memang sudah menyatakan siap untuk berbagi di berbagai kesempatan.

Mulai dari Presiden Direktur Adidas Indonesia, Presiden Direktur Nutrifood, Presiden Direktur Koran SINDO, CEO Lynx Films, CEO SDV Logistics Indonesia, CEO Virtual Consulting, dan masih banyak lagi. Kecewa yang timbul karena kepekaan kita dalam melihat situasi adalah langkah awal kesuksesan kita. Langkah awal sebuah perubahan terjadi. Namun, kalau peka (melihat dan menyadari) saja, tidak cukup.

Kita harus jangan menjadi orang yang hanya kecewa, marah-marah, tapi tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya. Kita harus peduli. Tanya ke diri kita sendiri, ”OK saya sudah tahu bahwa hal-hal itu membuat saya kesal, mau tidak saya melakukan sesuatu untuk memperbaikinya? Seberapa peduli saya akan halhal tersebut?” Peka tapi tidak peduli, tidak akan melahirkan apa-apa. Sama saja bohong.

Perubahan pun tidak akan pernah terjadi. Kombinasi kedua hal inilah yang sering kali membuat seseorang menjadi orang yang sukses. Bagaimana untuk melatih kepekaan dan kepedulian kita? Sejujurnya, saya tidak punya jawabannya. Menurut saya, bukan masalah bagaimana kita bisa peka atau peduli, tapi lebih kepada mau atau tidak kita untuk peka dan peduli. ”Mau” atau ”Tidak”? Tahun 2014 adalah tahun pemilu.

Kita akan dihadapkan oleh banyaknya calon-calon presiden dan wakil presiden yang akan mengumbar janji. Satu hal yang mungkin bisa menjadi barometer untuk memilih: lihat sepak terjangnya selama ini (tidak harus di politik), apakah dia benar pemimpin yang peka dan peduli? Ingat, kesuksesan dan perubahan positif berasal dari kepekaan dan kepedulian.

BILLY BOEN
CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management (JIM); Shareholder, Rolling Stone Café; Facebook.com/billyboenYOT; www.youngontop.com @billyboen
(Koran SINDO//wdi)
http://economy.okezone.com/read/2013/12/06/23/908164/peduli-awal-perubahan

Benteng Anti-Korupsi: Internal Cobranding

Benteng Anti-Korupsi: Internal Cobranding


Ilustrasi. (Foto: Seorchers) Ilustrasi. (Foto: Seorchers)

DALAM karikatur sindiran di sebuah koran digambarkan, ada dua anak yang sedang berbincang-bincang tentang cita-citanya. Jika yang satu bercita-cita jadi dokter, cita-cita anak yang satu lagi adalah menjadi koruptor.

Katanya, “Enak, bisa cepat kaya, punya rumah megah, mobil mewah, dan uang berlimpah.” Sindiran ini bukan tidak mungkin sudah tersimpan di benak sebagian anak kita yang setiap hari menonton berita seputar kasus korupsi, bercampur aduk dengan berita seputar kehidupan glamor selebritas. Dalam sebuah karikatur yang lain, sindirannya bercerita seorang yang ingin mencari pekerjaan di Bandung.

Pekerjaan apa yang dicari? Pekerjaan sebagai pengemis jalanan, karena itu cara cepat-nikmat-hemat jadi kaya. Belum tentu anak-anak bisa menyaring dan menarik pelajaran dari berita televisi. Di benaknya yang tertinggal adalah semua itu tampak sebagai jalan cepat, jalan singkat, jalan mudah untuk memperoleh segalanya dalam hidup. Nasihat orang tua yang sering disampaikan adalah, “Jagalah nama baik orang tua dan keluarga besarmu, Nak! Itu harga yang luar biasa tidak ternilai”.

Nasihat itulah yang mengiringi doa dan mengantarkan anak-anak di luar pandangan orang tuanya. Sudah saatnya anak yang memberikan nasihat kepada orang tuanya untuk mengiringi dan mengantarkan ayah ibunya bekerja, di luar pandangan anak-anaknya, “Ayah/ibu, jagalah nama baik keluarga kita semua. Bila reputasi ayah/ibu hancur, kami akan ikut merasakan dampak dari kehancuran reputasi tersebut.”

Cobranding yang melekat dan mungkin bukan merupakan pilihan kita sendiri adalah cobranding dengan anggota keluarga. Dulu saya sering dikaitkan dengan ayah saya yang kebetulan cukup dikenal di dunia pendidikan di kota kelahiran. Kalimat, “Oh ini anaknya Bapak....” Saat itu, saya sering merasa terbebani karena apa pun harus sejalan dengan kecemerlangan orang tua saya. Tetapi, belakangan saya mengerti bahwa pada saat memiliki orang tua yang reputasinya baik, akan lebih mudah membangun citra brand. Itu sebabnya saya miris melihat berbagai berita tentang penangkapan tersangka KPK. Yang saya pikirkan pertama kali bukan oknum yang ditangkap, tetapi keluarganya. Bagaimana nasib istri/suami dan anakanaknya?

Ini membuat saya resah dan berpikir sangatlah tidak adil bagi seseorang yang berbuat kesalahan fatal, tetapi membawa efek domino reputasi yang tercoreng pada anak-anak, istri/suami yang mungkin tidak tahu-menahu tentang sepak terjang mereka. Pencegahan korupsi mungkin bisa dilakukan dari sisi yang berbeda, yaitu dari sisi internal cobranding strategy. Ini merupakan tulisan ketiga saya di kolom Branding Solution tentang pencegahan korupsi dari rumah, (1)Atasi Korupsi via Strategi Cobranding dan (2) KPK- Komisi ‘Pembongkaran’ Korupsi.

Dalam ilmu cobranding, 1 + 1 harus lebih besar dari 3. Misalnya, brand saya ditambah brand anak saya, paduannya harus 3 atau lebih. Ini hanya bisa terjadi apabila semua pihak dalam internal branding (orang tua dan anak) memahami tugas masingmasing, yaitu membina dan mempertahankan reputasi. Internal cobranding terdekat untuk diri kita adalah keluarga kita sendiri.

Artinya, sudah waktunya setiap anggota keluarga diberikan pendidikan dan pemahaman tentang manajemen reputasi dan personal branding. Jika perlu, dimulai dari sejak anak-anak di pendidikan sekolah dasar. Kurikulum pendidikan budi pekerti yang sudah lama ada perlu disusun ulang dengan menambahkan elemen pentingnya personal branding dalam kehidupan.

Apabila setiap anak memahami bahwa setiap pribadi merupakan elemen dari multiple branding dalam putaran kehidupan, maka di mana pun kita berada, di mana pun berperan di kemudian hari, di sana personal brand kita akan bisa selalu menjadi aset, bukan liabilities. Menambahkan, bukan mengurangi. Pelajaran personal branding harus dikemas dengan konteks yang mengena.

Hal yang belum ada justru bagaimana membuat anak menjadi agent of change di rumahnya masing-masing, yang selalu bisa mengingatkan ayah ibunya untuk menjauhi kegiatan apa pun yang akan membuat reputasi keluarganya hancur.

AMALIA E MAULANA PHD
Brand Consultant &
Ethnographer ETNOMARK Consulting
www.amaliamaulana.com @etnoamalia
(Koran SINDO//wdi)
http://economy.okezone.com/read/2013/10/09/23/878846/benteng-anti-korupsi-internal-cobranding

Dahlan: Perkuat Brand untuk Perkuat Aset

Dahlan: Perkuat Brand untuk Perkuat Aset

Ilustrasi. (Foto: Okezone) Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Beberapa BUMN saat ini sudah memiliki branding atau merek yang terbilang cukup kuat. Beberapa perusahaan tersebut, seperti PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) dan PT Telkomsel.

Menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, tidak hanya branding BUMN saja yang sudah terbilang cukup kuat. Branding dari pihak swasta juga sudah mengalami peningkatan yang bagus, seperti branding Indomie. Oleh karena itu, dia yakin industri di Indonesia sudah mulai bangkit.

"Branding lokal sudah cukup kuat. Garuda lumayan sudah kuat, Telkomsel brandingnya sudah cukup kuat. Kemudian swasta makanan, Indomie, Supermie, branding sudah sangat kuat, dan ini bangkitlah," kata Dahlan seusai acara Seminar 'How Much Your Brand Worth' di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (17/9/2013).

Dahlan menjelaskan, saat ini dirinya menyadari bahwa branding merupakan suatu value yang di akui sebagai aset terpenting dalam perusahaan. Berbeda pada saat dulu, jika menyebut value hanya ada laba dan rugi saja.

"Branding adalah suatu value. Kalau dulu value kan rugi laba saja. Branding nggak dimasukkan ke value. Sekarang branding sudah diakui sebagai suatu aset atau yang penting dalam perusahaan," tambahnya.

Akan tetapi, untuk meningkatkan branding dalam negeri lebih kuat lagi, Mantan Dirut PLN ini mengaku sebaiknya ditangani oleh swasta nasional. Sebab, ruang swasta sangat luas, tidak seperti ruang pemerintah yang terbatas. "Sebaiknya yang begini-begini swastalah jangan pemerintah. Pemerintah itu terbatas, BUMN lebih kecil, Swasta nasional bangkit," tukasnya. ()
sumber:
http://economy.okezone.com/read/2013/09/17/23/867167/dahlan-perkuat-brand-untuk-perkuat-aset